Sabtu, 03 Januari 2009

Cerita Pendek

Ungkapan Nada

Raina Adwitiya Gayatri

Seperti yang belakangan ini terjadi entah apa yang sebenarnya membuat Zellika selalu cemberut dan uring-uringan sendiri setelah mengalunkan musik melalui jemarinya lewat piano classic yang katanya adalah hidupnya itu. Memang Zellika akan mengikuti konser sehingga setiap hari harus memainkan lagu yang sama, namun selalu terhenti di baris kelima dari repertoire. Omelan dan kejengkelanpun terlontar dari bibirnya.

Hari itu. Zellita latihan memainkan biolanya sepenuh jiwa. Dia mengalami kebimbangan dimana ia harus memutuskan sesuatu. Di luar hujan turun dengan indahnya. Alunan piano memecah kesunyian. Hampir tiga jam dia memainkan melodi dalam otaknnya. Namun lagi-lagi selalu terhenti dibaris itu diapun membolak-balik lembaran notasi music di hadapannya. Kesal setengah mati dan iapun menghentakan tangannya di piano tersebut. Mama melongokkan kepala dari arah pintu. Sejak tadi beliau memang mengawasinya.

“Ada apa sayang?” Tanya mama, lembut. Takut Zellita meledak.

Zellita mendesah lelah. Diapun melirik kearah mama dengan muka jengkel.

“Gagal total, ma. Kayaknnya ada yang membuat permainanku tidak sempurna, Tapi nggak tau apa ma!”

Mama melangkah kearahnya dan duduk disebelahnya. Lalu Zellita menyandarkan kepalanya kepundak mama. Mamapun mengusap rambut putrinya.

“Sudah, sana tidur saja mungkin kamu lelah sayang.” Bujuknya lembut. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala mama. Bukan merupakan ide buruk tetapi ide yang mengkhawatirkan karena Zellita pasti menolaknya mentah-mentah.

***

“ Hai, ada yang pelu dibantu?” Tanya seorang cowok tinggi besar sambil tersenyum manis.

Pasti kebiasaan mama. Zellita menggerutu sebal. “ Makhluk penghancur selera hidup datang,” gumamnya kesal.

“ Tante bilang lo mau konser piano bulan depan?” cowok itu menghampirinya. Zellita malah berbalik memunggunginya. Dia memainkan piano. Pura-pura tak peduli padahal hatinya resah. Terdengar nada-nada yang fals. Dia salah memainkan nada. Cowok itu telah tepat dibelakangnya. Aroma aftershave tercium.

“Etude in E-major. Lo mainkan sol, seharusnya nada…….,”

“ Ngapain lo disini? Celetuk Zellita keras.

“Cuma mampir kok. Hitung-hitung jenguk tante. Terakhir di Festival bulan lalu.

“Festival bulan lalu?” Bisik Zellita sakit hati. Saat itu dia kalah dan hanya meraih juara kedua. Sedangkan cowok itu, putra sahabat mama yang jenius basket dan piano itu yang memenagkannya. Dulu Zellita gampang sekali memenangkan lomba piano tetapi kedatangan cowok itu merusak semuanya dengan mudah. Hal itu yang membuat Zellita tampak seperti Pecundang sejati.

Rinov jago memainkan piano padahal sepulang dari luar negri dia terlihat urakan. Sama sekali tidak mencerminkan anak pengusaha kaya dan pianist handal. Berbeda dengan cowok-cowok pesaing Zellita yang bergaya rapi. Gaya Rinov lebih cocok untuk jadi anak jalanan. Padahal kemampuan pianonya mampu menghipnotis orang yang mendengar.

“Zellita terlau bermain di teknik. Lo harus memainkannya dengan perasaan sehingga nada-nada bisa terselaraskan. Lalu…..”

Zellita berbalik menatapnya melotot dan cemberut. “ Tolong y ague nggak perlu komentar dari lo, gue nggak ada urusan sama lo, mending lo pergi aja dari sini!!!”

Wajah Renov binggung “Tapi gue nggak mau ngeritik lo, gue Cuma….”

“PERGI…!!!!”

“ Zellita, Zellita. Coba lo tau tujuan gue apa, tapi ya udah lah” desis Rinov kecewa.

***

Untuk kesekian kalinya, Madam Kelly menggingatkan Zellita. Dia selalu mengulang kesalahan yang sama sehinnga beliaupun naik darah. Percuma ngomel-ngomel karena Zellita tidak bisa memahami maksud Madam. Sehinnga Zelliat disuruh berlatihan sendiri.

Diruang latihan Zelita mencobanya berulang-ulang sampai keringatnya bercucuran tanpa mempedulikan sekitar. Namun apa daya, akhirnya diapun menyerah dan terkulai lemas saking frustasinya. Sementara Rinov dan Melisa melihatnya dari belakang pintu.

“ Sudah nov, biarkan saja jangan masuk” cegah sahabat Zellita.

“ Lo liat sendiri kan? Si Bodoh itu memang harus dikerasin!!!”

“Gengsinya tinggi nov, dia pasti nggak pengen liat lo,”

“Gue tau lo cemas, tapi biarkan lah dulu dia menata pikirannya,” melisa mengulum senyumnya.

Rinov menghela nafas dalam. Sesekali menengok kearah Zellita yang terbelenggu dalam kesedihan. Cewek itu memang sedang mengalami gejolak dalam hatinya. Pianonya tak seindah dulu padahal tekniknya semakin dalam namun terasa hampa.

Tiga hari Zellita mengurung diri dikamar. Berkali-kali dia berlatih dikamar dari pagi hingga pagi lagi hingga jarinya lecet. Alunanya terhenti hanya jika dia lelah. Mama sudah membujuk namun Zellita keras kepala.

Hari keempat, Rinov menerobos kamarnya. Tanpa bersuara dia menatap tajam.

Cowok itu memainkan pianonya dengan tegas. Melantunkan musik yang menyayat hati. Sempurna terasa. Seakan gelombang keputusan menerpa relung hati Zellita. Air matapun mengalir di pipinya. Sesekali Rinov menatapnya. Bola mata bersinar dan member senyuman yang hangat.

Dengan gengsinya yang tinggi, Zellita pura-pura cuek. Musik Rinov pun membuatnya hatinya meleleh dan menari-nari dalam pesona. Zellita jadi jenggkel andai dia bermain seindah Rinov.

“Itu lagu favoritku. Kau juga menyukainya bukan? Lagu ini mirip dengan perasaanku tiga tahun lalu.” Zellita terdiam.

“Ada sebuah cerita. Seseorang pernah frustasi karena orang selalu menganggapnya terkenal karena nama orang tuanya. Susah payak dia membuktikan bahwa semua itu salah. Siang malam ia berlatih mengembangkan bakat yang ada. Namun tetap saja tidak pernah berubah.

Rinov menarik nafas. Zellita sedikit mundur wajahnya penasaran. Rinov tersenyum, membuat Zellita melumer.

“ Ortunya sibuk dan melupakannya. Dia hanyalah anak delapan tahun yang butuh perhatian. Sampai-sampai ia kehilangan semangat. Dia sengaja berbuat nakal demi mencari perhatian ortunya tersebut. Hingga suatu hari sahabat ortunya menolong. Dia member sebuah rekaman putrinya, yang memainkan musik yang luar biasa indahnya. Mendengar itu hatinya tersentuh dan muncul semangat baru dalam dirinya sehingga dia berusaha lagi berlatih bermain musik. Segala macam festival dia ikuti. Setelah dia yakin mampu mempertunjjukan kemampuannya tersebut dia berjanji akan menemuinya. Karena gadis kecil itu yang mengajarinya bahwa musik bukan masalah menang atau kalah, tapi bagaimana musik bisa dirasakan melalui hati dan bisa dinikmati. Dia benar-benar berterima kasih karena gadis itu tidak hanya menyembuhkan luka hatinya tetapi juga membuat dia paham dengan keindahan musik.”

Tiba-tiba perasaan Zellita aneh. Dia tahu siapa yang dimaksud Rinov.Air matanya jatuh dan tedipun mendekapnya dengan lembut.

“Terima kasih Zellita, lo sudah menyelamatkan hidup dan musik gue. Jangan pernal lupakan perasaan lo waktu lo memainkan piano saat itu. Lo memainkannnya dengan hati.”

Zellita tercengang. Barulah ia sadar. Dia melupakan kecintaannya terhadap musik karena obsesinya. Teknikmu memang mendekati sempurna namun semua itu hampa jika kehilangan jiwa. Zellita tidak sabar ia ingin segera memainkan pianonya dari hati.